RSS

Merdeka di Bulan Puasa

Definisi kemerdekaan itu bisa jadi BUBAR, namun Romadlon tetap jalan terus. ( Lik Man )

 

Kata DIRGAHAYU itu seperti menjadi latah nasional. Sibuk mencari arti kemerdekaan, dan lupa mengisi kedirian. Duluan mana sih antara manusia dan kemerdekaan itu? Merdeka itu hanyalah kesepakatan sementara, merdeka itu cuma produk budaya, merdeka itu sekedar lirik sumbang dari kisah jutaan bedil agar tidak nampak sia-sia.

Merdeka itu penipuan. Merdeka itu adalah ketidaksetujuan pada perjuangan abadi.

Perjuangan itulah pembebasan yang sejati. Aku dalam diri itu harus menjadi pejuang, bukan pemburu kemerdekaan. Merdeka itu bisa datang kapan saja, merdeka itu kontekstual. Merdeka itu penghancuran kemanusiaan.

Fitrah manusia adalah yang terbelenggu. Jika manusia menyiasati bumi dengan kerja pembebasan, wow itu nguyahi segara. Tidak perlu perdamaian dan peperangan, manusia sudah terlahir merdeka, berhak menjadi seekor bajingan atau manusia mulia.

Mereka pikir memanggul kemerdekaan itu gampang, apa mereka lupa kemerdekaan bom atom, yang membuat radiasi tahunan, apa mereka lupa kemerdekaan ideologi, yang membuat manusia saling berperang, apa mereka lalai kemerdekaan sosialisasi, yang membuat manusia harus berani tidur seranjang tanpa ikatan, apa mereka lupa bahwa karena kata KEMERDEKAAN peradaban bumi menuju pada kristalisasi borok di lantai gedung-gedung yang dibuat meninggi.

Wahai generasi, bukan pada pucuk bedil kakek moyangmu, bukan pada tajam pena kritik pada kelalaian penguasamu, bukan pada ganasnya argumenmu menentang alam, ketahuilah, Aufklarung yang diciptakan manusia pemburu kemerdekaan telah menghkhianti alam raya.

Bunuhlah kata merdeka!!! Sebelum kata itu membunuh jiwamu!!! kata itu yang sudah menyuruh manusia untuk melakukan ketidakadilan, melakukan caci-maki, melakukan pembunuhan, melakukan penghasudan, melakukan kebohongan. Merdeka bukanlah kebenaran, merdeka bukanlah kebenaran, merdeka bukanlah kebenaran.

Jika kalian tidak segera membenci kata MERDEKA, maka ketahuilah, selamanya tidak akan kalian temukan apa itu KEBEBASAN HAKIKI.

MERDEKA UNTUK MATI, itulah satu kata sifat yang musti kalian pikir panjang.***

 
Leave a comment

Posted by on August 10, 2011 in Arsiran Tepi

 

Tags: ,

Umpan Silang

Sampiyan harus yakin inilah nasib rakyat miskin.. (Lik Man’s Cable)

Belum terlalu jauh rasanya, kebekuan menenggelamkan sauh ke dalam bumi. Kapal itu kini berdiri terhenti, bukan lagi mengambang berlayar. Sebab tanahnya kapal yang semestinya air telah menjadi daratan beku gunung salju. Dibawah nol derajat segala satuan suhu.

Pecah cangkir ganti porong, pecah pikir ganti wong, yen perlu sak umure digenti sisan…..Indonesia itu ming istilah ya nggér….ora perlu wedi…sing penting lumaku ing dalaning bebener…. “

Umpan Memancing Ikan Nila selain Lumut

1. 1 buah telur bebek

2. 1 lembar Keju kraff

3. 2 tetes Essen kacang

4. 1 sendok ebi yang telah dihaluskan

5. 5 sendok bandul 97 atau 380

6. 1 bungkus udang

Kadang sesekali perlu membingungkan diri kita, agar terlihat sebagai anak manis yang penurut. Namun ada satu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa di luasnya lautan, ikan terbesar adalah diri kita.

Tidak musti semuanya harus terkait satu sama lain. Terkadang berdiri sendiri itu penting***

 
Leave a comment

Posted by on August 7, 2011 in Arsiran Tepi

 

Tags:

Another Someday, piye kuwi?*

Lihatlah bintang di langit malam Jakarta, niscaya engkau bisa menghitungnya. ( Lik Man’s partner )

Ketika dulu, saya memiliki seorang kawan baik. Dengan background setting keilmuan yang serba matematika, tentu kesederhanaan cara pandangnya akan lain dengan bangsa “sosiawan”. Pengantar latar belakang ini menjadi penting tatkala perihal yang hendak dibicarakan adalah merumuskan kuasa kehendak diri. Dalam dasar psikoanalisa ada disana tentang ID. EGO, dan SUPEREGO.

Seiring waktu, menggiring peristiwa dalam diri. Kejadian emosional dan melankolia itupun mengalir seperti sungai mencari hilir persoalan. Beban pemikiran yang dibiarkan mengambang, tahunan. Semua hanya dibicarakan lewat surat saban Jum’at. Pembicaraan kami tersekat jeda hari dalam minggu-minggu yang terasa panjang. Inilah yang dinamai emosi menilai. Perubahan semu diakui sebagai result temuan yang tak seimbang. 1X24 jam bukan lagi satu hari, melainkan selalu lebih. Dan seperti itulah penantian. Proses menunggu memang seperti berujung muram dalam kemurungan dan debar jawaban batas akhir capaian. Uraian tidak lagi berjalan wajar, terkadang melompat. Dan itulah hati manusia, tidak pernah kuat menanggung ID kejiwaan. Dibatasnya, mungkin ia akan gila.

Tapi tidak dengan cara giring emosional kawan saya. Ia tidak membagi persoalan menjadi tiga atau empat, tapi cukup dua. Telisik itu dibagi menjadi perasaan dan penasaran. Memang ada anomali kristalisasi  ketika dua air yang berbeda dituang dalam satu cawan yang sama, yaitu HATI.

Bi-idznillah, toh faktanya semua baik-baik saja. Prinsip dasarnya, manusia tidak akan rela menyerahkan dirinya pada keresahan dan kekalahan. Sebab tidak ada relasi sosiologis yang melulu harus dimenangkan dalam arti memiliki. Memetik mawar itu tidak cuma satu dalam hidup.

Nyaris 4 tahun saya akhirnya mampu memahami bahwa tidak mustahil menghitung bintang di langit malam Jakarta. Ketika bisa dibilang saya  tersekat jarak 400 km. Bahkan bau asap metropolitan yang hanya dapat saya baca melalui koran dan situs lingkungan. Namun memang itulah budaya matematika, budaya kawan saya dalam menggembalakan hasrat manusia. Tentu ia jauh dari nilai sepuluh, tapi paling tidak ia jago merampungkan konflik tanpa musti menciptakan ketegangan.

Walhasil, saya cemburu tidak kepada manusia yang berhasil menyandingnya. Melainkan pada kedirian saya begitu terlambat mengusai matematika dalam dirinya.

Siapapun dia, begitulah saya setengahnya. Tentu dalam batas kejawaran menjawab persoalan. Menyikapi emosi cinta kasih dua kepala, manusia terlanjur tidak percaya dengan utak-atik matematika, namun bagi saya, dalam cinta: 1 (satu)  + (ditambah) 1 (satu) pastilah berjumlah 2 (dua). Tidak ada yang meleset dalam angka matematika, karena yang unrecognized dalam nalar kita sejatinya hanyalah makna dan bilangannya saja.  Untuk menulis 2, manusia boleh memilih dengan cara apa saja:  9-7;5-3;-98876+(98878);..;..~

Tentangnya, saya memiliki cerita hikmah yang cukup panjang, tapi rasanya ini dulu saja. Karena saya begitu merah dan malu, dengan kebodohan saya dahulu__dan sekarang.***

* catatan tentang Cenderawasih Jawa: Ummu Khonsa~

 
1 Comment

Posted by on August 5, 2011 in Arsiran Tepi

 

Tags:

Guntingan The Washington Post (ketika itu)

This slideshow requires JavaScript.

 
Leave a comment

Posted by on August 2, 2011 in Saduran Tematik

 

Mata Air

Sandarkan hatimu tepat di hening malam-malam mulia;

letakkan hasratmu pada jalanan rahmat tiada tara;

sucikan bentuk jiwamu dalam tartil Qur’an;

bersihkan yang berbau dengan puasa jasmani rohani;

tidak ada semangat yang lebih pantas untuk disiapkan: kecuali mengisi Ramadhan dengan Sunnah kekasih dari yang terkasih: Muhammad sholallohu’alaihi wa sallam.

Man shoma romadhona imanan wakhtisaban, ghufirolahu ma taqodama min dzanbih. Dari Abu Hurairah, dari Nabi, beliau bersabda : Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, diampuni dosanya yang telah lalu. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

 
Leave a comment

Posted by on July 31, 2011 in Konsepsi (Ultim)

 

Tags:

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.